Blogger Backgrounds

Rabu, 14 Desember 2011

Koperasi Nelayan Terlibat Impor Ikan

Kehadiran ikan impor di dalam negri semakin sulit di kendalikan karena telah melibatkan koprasi nelayan. Koprasi yang seharusnya mengurusi nasib nelayan malah ikut terlibat dan berperan dalam rantai bisnis impor ikan. Impor ikan oleh koprasi ini, antara lain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku usaha pengolahan ikan.

Keterlibatan koprasi ini, menurut ketua umum Koprasi perikanan Indonesia Wibisono Wiyono, yang dihubungi dari Indramayu, Jawa Barat, sebagai hal yang wajar. Koprasi sebagai agen untuk ekspor ikan sudah lazim. Kini saatnya Koprasi terjun sebagai agen impor ikan.

Harga produk perikanan lokal hingga kini belum bisa bersaing dengan priduk impor. Sementara itu, industri pengolahan ikan berpkir ekonomis untuk pemenuhan bahan baku dan masr ekonomis untuk pemenuhan bahan baku dan masrakat berkepentingan mengkonsumsi ikan olahan dengan harga terjangkau. “Kita logis saja. Kalau ada kegiatan usaha pengolahan butuh bahan baku, sedangkan bahan baku di dalam negri mahal,impor kan perlu ditempuh menurutnya.

Keterlibatan koprasi dalam kegiatan ikan impor juga di ungkapkan oleh wakil ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia kota Medan bidang perekonomian Abdul Rahman. Dikatakan sedikitnya ada dua metode perdagangan ikan impor, yaitu lewat jaringan pengusaha dan lewat koprasi pedagang ikan kecil di belawan, Sumatra Utara

“ Biasanya pedagang besar akan menelepon pengusaha minta dikirim kalau ada ikan impor masuk misalnya 10 kotak lalu sopir akan mengantar ke pemesan ikan itu. Kemudian diecerkan kembali ke pedagang kecil. Model kedua adalah melalui koprasi pedagang ikan di Belawan. Koprasi mendapat potongan khusus 5 hingga 10 % dari pengusaha.

Ketua koprasi perikanan laut Mina sumitra Indramayu Ono Surono menyatakan, keterlibatan koprasi nelayan dalam kegiatan ekspor impor ikan adalah keliru. Mereka seharusnya Fokus pada bisnis utamanya yakni pemberdayaan dan pembinaan nelayan untuk meningkatkan produsi ikan.

Sumber: Ekonomi Perikanan. Kompas, 9 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar