Blogger Backgrounds

Rabu, 21 Desember 2011

Cermati Waralaba Asing

Gejolak ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah mempersempit ruang gerak pembisnis di sana. Salah satunya adalah bisnis waralaba. Pembisnis waralaba ini mulai melebarkan sayap bisnis ke setiap negara tetangga.

Degan populasi 235 juta jiwa, menjadikan Indonesia Pasar yang menarik. Hal itu di tambah dengan kondisi makroekonomi yang stabil, pendapatan per kapita pun membaik. Bank Dunia mencatat, jumlah warga kelas menengah di Indonesia bertambah 50 juta dalam tujuh tahun ini menjadi 134 juta jiwa tahun 2010. Sangat menggiurkan.

Baru saja 16 waralaba Amerika Serikat datang ke Indonesia. Sebelumnya, 30 waralaba asal Malaysia juga menjejaki pasar Indonesia. Sepanjang tahun ini, arus waralaba asing ke Indonesia cukup deras. Tahun 2010, baru ada 70 waralaba asing. Namun tahun ini, sudah ada 152 waralaba. Arus waralaba asing sudah dimulai sejak tahun 1970an. Namun, banyak yang gagal pada saat itu karena pendapatan per kapita masyarakat masih rendah.

Tahun 2010, waralaba di Indonesia berjumlah 1500 unit usaha dan sebagian besar berupa makanan dan minuman. Pada saat itu sektor kontribusinya besar terhadap jenis makanan dan minuman.

Dalam konteks makro fenomena itu bisa saja dianggap menguntungkan Indonesia. Ada pemindahan kapital, semakin ramai aliran dana ke Indonesia. Tetapi yang di pikirkan adalah bagaimana dengan sektor mikro? Dan sektor rillnya/

Ada beberapa catatan yang menseriuskan. Pertama, mereka tidak mau menggandeng mitra lokal. Tidak mau memecah waralaba itu dalam bentuk outlet yang di kerjakan oleh pengusaha kecil dan menengah.

Kedua, kebanyakan waralaba asing bergerak dalam usaha makanan dan minuman seta ritel kebutuhan rumah tangga. Padahal, usaha seperti itu banyak digeluti pengusaha lokal. Dengan kekuatan modal, mereka dengan mudah menyingkirkan perusahaan lokal. Apalagi, beban bunga bank yang mereka tanggung di negaranya lebih kecil. Bunga bank Indonesia relatif tinggi.

Oleh karena itu, pemerintah harus selektif. Jangan sampai demi mengejar kepentingan ekonomi makro, aspek mikro terabaikan. Seharusnya pemerintah meninjau kembali izin waralaba asing.

Sumber: Harian Kompas, 17 Desember 2011. Info ekonomi dan perdagangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar