Blogger Backgrounds

Jumat, 23 Desember 2011

Perdagangan di Laut Merusak

Pasokan ikan ke Industri pengolahan Terganggu

Perdagangan ikan di tengah laut masih berlangsung dari nelayan kepada pedagang pengepul. Transaksi tak terkontrol itu menyebabkan tangkapan ikan yang di daratkan di pelabuhan merosot, pasokan bahan baku ke pengolahan juga terhambat, dan merugikan negara.

Kondisi itu ditemukan dalam penelusuran di Pantai Utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur selama dua pekan. Praktik penjualan ikan oleh nelam penelusuran di Pantai Utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur selama dua pekan. Praktik penjualan ikan oleh nelayan kepada pedagang di tengah laut(transshipment) antaralain berlangsung di Kabupaten Lamongan, Jawa Tengah.

Di Tempat Pelelangan Ikan di Brondong, Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondang, Lamongan, sejumlah pengepul ikan mengaku mendapat pasokan ikan layang dari nelayan di tengah laut. Pengepul memanfaatkan jasa nela. Pengepul memanfaatkan jasa nelayan gendong yang membeli ikan dari kapal nelayan Pekalongan.

Pedagang ikan di TPI Brondong, mengungkapkan, sebagian ikan yang dijual saat ini di ambil dari hasil pembelian ikan di tengah lautdari nelayan jaring purseseine. Transaksi perdagangan itu menguntungkan kedua pihak, baik nelayan maupun pedagang. Sistem penyimpanan ikan dengan es mengakibatkan kualitas ikan merosot jika tidak segera dijual.

Ikan layang yang dijual dari nelayan gendong di jual oleh pedagang pada kisaran harga RP 6.000-RP 8.000 per kilogram. Ikan tersebut umumnya sudah di simpan selama 2-4 hari tanpa es memadai.

Ikan ini umumnya dibeli oleh pengusaha pemindang lokal, menurut pedagang ikan disana.

Pengepul ikan di TPI Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, menuturkan, penjualan ikan ditengah laut masih kerap dilakukan nelayan di Pekalongan. Penjualan ikan yang dilakukan nelayan di tengah laut mengakibatkan pasokan ikan untuk kebutuhan wilYh sendiri jadi berkurang, menurut sang pengepul ikan itu.

Merugikan Negara

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, KAB. Batang mengakui bahwa praktik perdagangan ikan tengah laut masih berlangsung, khususnya nelayan purse shine yang melaut berbulan-bulan sampai ke selat Makassar dan Bitung Sulawesi Utara.

Adapun sarana penyimpanan ikan masih mengandalkan es karena kapal belum dilengkapi rumah pendingin. Padahal daya tahan es untuk menyimpan hanya 20 hari.

Mekanisme pasar tidak terkontrol itu, merugikan negara karena ikan yang ditangkap nelayan tidak di daratkan di Pelabuhan perikanan sehingga hasil tangkapan ikan tidak terdata dan fungsi pelelangan ikan tidak optimal.

Perdagangan di tengah laut yang di biarkan akan merugikan Pemerintah dan konsumen karena pasokan ikan sedikit.

Sumber: Harian Kompas, 20 Desember 2011. Tentang Ekonomi Perdagangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar