Blogger Backgrounds

Rabu, 14 Desember 2011

Proteksi Pekerja UMKM Masih Rendah

Proteksi terhadap pekerja di sektor usaha mikro, kecil dan menengah , terutama di daerah masih rendah . Umumnya, pelaku UMKM lebih mengutamakan berjalannya bisnis terlebih dahulu.

“Padahal semua pemilik pekerja, sebagaimana diatur dalam UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, semestinya memiliki kewajiban memberikan proteksi sejak usahanya dibuka, “ menurut Head of Coporate Solution AIA Financial Nicky Theng.

Beliau dalam perusahaannya berupaya memberikan edukasi kepada pemilik perusahaan. Neraca keuangan perusahaan sebenarnya ikut tergerus karena karyawan yang merupakan aset perusahaan bisa juga sakit dan membutuhkan biaya kesehatan yang besar.

Menurutnya, asuransi untuk hari tua ataupun asuransi jiwa memang umumnya sudah diikutkan dalam program jamsostek. Namun, untuk asuransi kesehatan sesungguhnya tidak harus dikelola jamsostek.

Survey Towers Watson tahun 2011 tentang Global Medical Trens menyebutkan tingginya biaya kesehatan hingga mencapai 2 digit presentasenya. Di Indonesia, biaya kesehatan meningkat 10- 13 % per tahun.

Nicky mengatakan, sebagai industri asuransi, perlindungan terhadap karyawan di lingkungan pekerjaan formal sangat potensial untuk digarap. “ Dalam setiap sosialisasi, AIA selalu mengutamakan pemahaman terhadap perlunya perlindungan yang baik dan efektif terhadap budget yang sesungguhnya disediakan oleh perusahaan. Sebab, ada saja pengeluaran yang tidak efektf dalam suatu perusahaan.

Sumber: Info Ekonomi Tenaga Kerja. Harian Kompas,Selasa 13 Desember 2011

Selasa, 13 Desember 2011

Memahami Persaingan Bisnis Yang Baik

Persaingan memang dapat terjadi di mana saja, sejak kita di bangku sekolah, kita bersaing untuk menjadi juara kelas. Dalam setiap perlombaan/kompetisi kita bersaing untuk menjadi pemenangnya. Begitu juga halnya di dunia bisnis, seluruh perusahaan akan bersaing untuk berhasil menguasai pasar produk yang dijualnya. Untuk memenangkan persaingan kita akan mengerahkan segenap kemampuan dan sumber daya yang kita miliki untuk “berperang” habis-habisan agar bisa memenangkan persaingan(menguasai pasar). Agar menjadi juara dalam dunia pendidikan kita juga akan belajar keras agar bisa menjadi sang juara, demikian pula dalam dunia bisnis. Di dunia bisnis kita harus menerapkan strategi yang jitu agar bisa menjadi pemenangnya.

Kita berpikir bahwa bagaimana rasanya ketika pertama kali kita tahu bahwa produk yang kita jual ternyata produk sejenis dijual juga oleh perusahaan lain? Tentu kita terkejut dan berpikir bahwa takut terjadi pemerosotan omset penjualan dan permintaan terhadap produk dari perusahaan kita.

Tapi itu terjadi hanya emosi sesaat, setelah kita merenung sebentar dan selanjutnya “akal sehat” kita langsung bekerja. Kemudian kita akan berfikir bahwa kita harus menyadari kenyataan tersebut, dan harus realistis bahwa kita harus menghadapi persaingan tersebut dengan lapang dada. Biasanya kita akan mengadakan studi kecil/ mengecek untuk mengetahui kwalitas produk pesaing, biasanya yang dijadikan perbandingan seperti : kelebihan dan kekurangannya, harga, pola pemasarannya, dan karakteristik penting lainnya. Dari sana kita dapat membuat semacam matrik perbandingan antara produk kita dengan produk pesaing. Kemudian hasil matrik tersebut dapat kita jadikan untuk mengambil beberapa keputusan penting tentang bagaimana caranya agar bisa “mengalahkan” produk pesaing tersebut dan dapat merebut mangsa pasar yang ada.

Sebenarnya bagi saya di sini lah letak serunya persaingan bisnis sesungguhnya, di mana layaknya seperti arena pertandingan, maka kita akan menggunakan berbagai jurus-jurus “sakti dan pamungkas” agar bisa segera “menjatuhkan” lawan dengan cara yang sehat. Dalam konteks ini, salah sedikit saja dalam mengambil keputusan bisnis, bisa berakibat merosotnya penjualan produk kita dibanding produk kompetitor, begitu juga sebaliknya. Situasi seperti inilah yang menjadi indikator bisnis kita menang atau kalah dalam persaingan tersebut. Maka sebagai seorang produsen/ pembisnis harus berani bersaing dengan para produsen diluar dari kita

Foto: http://www.sweden.se/upload/Sweden_se/english/articles/SI/2006/Business

MANAJEMEN KEPEMIMPINAN YANG BAIK MEMBANGUN SALING PERCAYA

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat membangun rasa saling percaya dalam organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin idola juga selalu transparan dan hadir ditengah problematika yang muncul di tengah organisasi.

“Pemimpin yang terpercaya selalu menghadapi kenyataan. Dia juga terbuka, membuat komitmen yang meneguhkan dan selalu menjaga komitmennya,”menurut pendiri dan Chief executive officer coveyLink World Wide Stephen MR Covey, dalam acara BNI Insfiring Lecture Series di Jakarta.

Stephen yang juga penulis buku terlaris The Speed of Trust, beliau juga adalah pembicara ternama masalah kepemimpinan. Menurutnya pemimpin yang baik, dapat dilihat dari karakter dan kompetensinya. Kejujuran serta komitmennya untuk sukses bersama mereka yang dipimpin selalu dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari di organisasi. “Pemimpin yang seperti itulah yang membangun rasa saling percaya ditengah organisasi. Ia menjadi model hidup organisasi.

Kepemimpinan yang membangun keperca Kepemimpinan yangv membangun kepercayaan bisa dan justru harus dipraktikkan dalam organisasi, komunitas, masyarakat yang diliputi ketidakpercayaan. Rasa saling percaya akan tumbuh dan mampu merubah kelompok, komunitas, ataupun masyarakat. “Budaya kepercayaan harus dibangun walaupun memerlukan waktu . Tapi pemimpin yang dilahirkan dengan komitmen dan karakter akan mampu mentransformasikan hal itu untuk membuat rasa saling percaya. Kepercayaan yang bijak dan pandai adalah hal yang dapat mengubah sesuatu . Dalam organisasi Bisnis , kemampuan untuk membangun , menumbuhkan, menjaga dan mengembalikan semua kepercayaan para pemangku kepentingan pelanggan partner bisnis ,investor maupun rekan kerja merupakan kinci kepemimpinan baru secara global. Untuk menjadikan pemenuhan harapan pemangku kepentingan itu sebagai salah satu misi seluruh perusahaan ,terbukti bahwa kepercayaan mampu melampaui harapan. “ Jadi apapun yang dijalankan jika ingin sukses perlu eksekusi yang baik. Rasa saling percaya yang dibangun akan membawa perbaikan dala organisasi.

Bank Arahkan Kredit ke Perusahaan Inti

Jenis Perusahaan dan bentuk Investasi merupakan penyebab umum tersendatnya kredit bagi sektor pertanian. Solusinya, bank melakukan langkah aman dengan mengucurkan kredit pada perusahaan inti yang bekerja sama dengan petani plasma.

Direktur Strategi dan keuangan PT Bank Mandiri (Pasero) Tbk Pahala N Mansury mengakui, mandiri menyiasati kendala tersebut dengan memberikan kredit bagi perusahaan inti. “Dengan Demikian, dari sisi produktivitas dan daya saingnya jelas, “ Menurut pahala

Data Bank Indonesia menurut September 2011, menunjukan total kredit bank umum sebesar RP 2.079 Trilyun. Kredit untuk sektor pertanian, perburuan dan sarana pertanian sebesar RP 101,492 Trilyun atau sekitar 4,88 persen dari total kredit bank umum. Suku bunga rata- rata kredit bagi sektor pertanian sebesar 11,44% untuk rupiah dan 4,46% untuk kredit valas.

Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (Pasero) Tbk Muhammad Ali menyampaikan,sekitar 8% dari kredit BRI untuk sektor pertanian. Menurut catatan kompas per Triwulan sekitar RP 47,63 Trilyun.

BRI menerapkan sistem dan acvuan yang berbeda untuk setiap jenis kredit di sektor pertanian, termasuk adanya grace period atau tenggang waktu tanpa denda. Misalnya kredit untuk kelompok tani dengan besaran maksimum RP 100 jutaan untuk setiap petani.

“Suku bunga kredit untuk komoditas karet sebesar 6% dengan grace period 7 tahun. Suku bunga komuditas kakao 7% dengan grace period 5 tahun menurut sekretaris PT Bank BRI.

Sumber: Info perekonomian dan investasi perbankan. Kompas 12 Desember 2011

Jenis-Jenis Koperasi Berdasarkan Fungsi serta Tingkat dan Luas Daerah

A. Jenis koperasi berdasarkan fungsinya :

1. Koperasi Konsumsi
Koperasi ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan umum sehari-hari para anggotanya/ penduduk dimana koperasi itu didirikan. Yang pasti barang kebutuhan yang dijual di koperasi harus lebih murah dibantingkan di tempat lain, karena koperasi bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya dan mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.

2. Koperasi Jasa
Koprasi ini didirikan untuk untuk memberikan jasa keuangan yang di himpun dari para anggota dan dikelola kembali dalam bentuk pinjaman kepada para anggotanya. Tentu bunga yang dipatok harus lebih rendah dari tempat meminjam uang yang lain.

3. Koperasi Produksi
Bidang usahanya adalah membantu penyediaan bahan baku, penyediaan peralatan produksi, membantu memproduksi jenis barang tertentu serta membantu menjual dan memasarkannya hasil produksi tersebut. Sebaiknya dapat menghimpun anggota yang cukup banyak dan anggotanya terdiri atas unit produksi yang sejenis. Semakin banyak jumlah penyediaan barang maupun penjualan barang maka semakin kuat daya tawar terhadap suplier dan pembeli.

B. Jenis koperasi berdasarkan tingkat dan luas daerah kerja

1. Koperasi Primer
Koperasi primer ialah koperasi yang yang minimal memiliki anggota sebanyak 20 orang perseorangan.

2. Koperasi Sekunder
Adalah koperasi yang terdiri dari gabungan badan-badan koperasi serta memiliki cakupan daerah kerja yang luas dibandingkan dengan koperasi primer.
Koperasi sekunder dapat dibagi menjadi :
a. koperasi pusat - adalah koperasi yang beranggotakan paling sedikit 5 koperasi primer
b. gabungan koperasi - adalah koperasi yang anggotanya minimal 3 koperasi pusat
c. induk koperasi - adalah koperasi yang minimum anggotanya adalah 3 gabungan koperasi

Sumber : http// www. wikipedia.or.id